Kebebasan Berekspresi di Ruang Digital

Edukasi147 Dilihat

BATURAJA,sebimbing.com – Rangkaian Webinar Literasi Digital di Kabupaten Ogan Komering Ulu melaksanakan webinar ke 18 dari 23 rangkaian Webinar, Jumat (22/10/ 2021). Webinar yang digelar pukul 14.00 wib ini bertema Paham Batasan di Dunia Tanpa Batas, Kebebasan Berekspresi di Ruang Digital.

Kegiatan massif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif-nya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.

Dalam kegiatan ini, Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru,
juga memberikan sambutan yang positif terhadap kegiatan literasi digital yang diselenggarakan di Kabupaten Ogan Komering Ulu. Beliau mengharapkan agar kegiatan ini dapat berdampak positif dalam kegiatan masyarakat yang saat ini dituntut untuk lebih sering menggunakan perangkat teknologi.

Pada webinar yang menyasar target segmentasi siswa SMP Negeri 1 OKU kali ini sukses dihadiri 412 peserta dari 1.152 pendaftar . Hadir sebagai narasumber pada webinar kali ini antara lain Ika Meilani Untari, S.Si., Bayu Wardhana, Darwadi M Suwarno Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Baturaja dan Herma Yulia, S.Pd., guru sekaligus menjabat Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Negeri 1 OKU. Narasumber lainnya adalah seorang pembawa berita salah satu stasiun TV swasta terbesar di Indonesia, Chaca Annisa yang juga Bertindak sebagai Key Opinion Leader (KOL).

Pada sesi pertama Ika Meilani Untari, S.Si, memberikan materi tentang Kecakapan Digital, beliau menjelaskan bahwa media social dan perangkat teknologi bagaikan dua sisi mata pedang yang memiliki banyak sisi positif namun juga punya sisi negatif.


“Kita semua harus selalu mengedepankan pemikiran terlebih dahulu sebelum berkomentar atau mengunggah sesuatu. Otak kita harus didepan jari seperti kata orang bijak bahwa orang cerdas itu berpikir dahulu sebelum berbicara, tapi orang pandir akan berbicara semaunya tanpa berpikir,” Ujarnya.

Bayu Wardhana Menambahkan selain kecakapan Digital juga harus memperhatikan Keamanan Digital agar tidak mudah diakses orang lain untuk melakukan kejahatan Digital. Menurut pria yang berprofesi wartawan Independen.id ini, jejak digital akan tercatat semua. Semua yang pernah kita telusuri pada mesin pencarian google akan tercatat dan dapat dilacak kembali sejak awal sampai terbaru. Apa yang disebut dengan jejak digital aktif antara lain ketika kita mengunggah foto, belanja di market place, atau menggunakan aplikasi gojek contohnya.


” Kiat membuat konten positif dapat kita lakukan misalnya hindari ujaran kebencian, menghina suku, agama, ras, dan antar golongan, kritik pada kinerja bukan pribadi seseorang, dan respek kepada semua orang karena semua orang adalah guru dan sekaligus murid,” jelasnya.

Digital sendiri saat ini sudah menjadi Budaya baru di masyarakat. Dikatakan narasumber lain, Darmadi M Suwarno, Semua aspek bertranspormasi menjadi digital. Dunia pendidikan mengalami perubahan yang signifikan seiring pandemic covid-19 yang mau tidak mau memaksa harus melaksanakan pembelajaran menggunakan medium digital. Belanja pun tidak harus bertatap muka langsung di pasar, orang dapat berbelanja secara online menggunakan perangkat handphone darimana saja berada.


“Media social paling populer di Indonesia adalah Youtube yang mencapai lebih dari 90% generasi muda mengakses youtube. Artinya generasi saat ini diberikan kemudahan untuk mengakses berbagai hal dalam pembelajaran maupun dalam transaksi berbelanja,” Tambah dosen Ilmu Komunikasi Unbara ini.

Sementara Herma Yulia sudut pandang Etika Digital juga penting dalam membatasi diri dalam dunia digital. Pada masa beliau sekolah dulu, tidak ada laptop dan handphone. Kalau mau berikirim pesan menggunakan surat menyurat, dan lama baru dapat balasan atau khabar balik dari orang yang kita tuju. Dengan internet dimasa sekarang, kita dapat bertemu dengan orang lain (bertatap maya), dapat berkomentar terhadap status teman. Dulu HP dilarang untuk siswa sekolah, namun sekarang siswa tidak dapat belajar jika tidak ada perangkat seperti HP misalnya.


“Namun, ada hal yang tidak boleh ditinggalkan yakni Etika. Menurut KBBI etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk berkaitan dengan prinsip moral. Dalam konteks dunia digital, etika juga harus dimasukkan,” ungkapnya.

Chacha Annisa Sebagai key opinion leader dalam webinar kali ini, menuturkan bahwa salah satu alasan menggunakan media social adalah untuk membangun relasi. Supaya kita jadi generasi cakap dalam bermedia social, harus bijak dan bermanfaat. Saya sendiri pernah mendapatkan pelecehan di media social, aku berusaha menjadi orang bijak dan tidak membawa masalah ini ke ranah hukum, aku hanya bisa mungkin memblock akun tersebut atau menghapus pertemanan dengan orang itu.

“Tapi orang mungkin bisa saja berbeda menyikapi persoalan, mungkin saja berujung pada jalur hukum dan penjara padahal masalahnya sangat sepele. Jadi harus hati-hati sekali,” jelasnya.

Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar ini, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Salah satunya yaitu Deni Juliansyah, yang menanyakan Bagaimana cara berekspresi di media sosial agar mudah mencari pekerjaan di masa yang akan datang? Dimana menurut Ika Meilani Untari, S.Si, pada intinya kita harus mempertimbangkan setiap postingan yang akan kita bagi di media social, sehingga tidak memberikan dampak buruk kepada kita dikemudian hari.

Kemudian pertanyaan Sofiah Azizah terkait banyaknya akun yang menjebak dan mengancam akun kita. Menurut Bayu Wardhana, yang pertama masyarakat harus hati-hati dengan alamat web yang tidak kita kenal, jangan asal klik link yang tidak kita kenal. “Yang kedua kalau akun kita hilang, maka upaya yang dapat kita lakukan yaitu kita melapor ke pemilik media social tersebut,” pungkasnya.

Webinar ini merupakan satu dari rangkaian 23 kali webinar yang diselenggarakan di kabupaten Ogan Komering Ulu. Masyarakat diharapkan dapat hadir pada webinar-webinar yang akan datang. (*)