Zaman Berubah Pelajar dan Guru Harus Terampil Belajar Daring (Online)

Edukasi, Oku, Sumsel158 Dilihat

BATURAJA – Kementerian Kominfo RI kembali menggelar Webinar Literasi Digital di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Rabu (25/8/ 2021). Webinar kali ini digelar dengan tema Terampil Belajar Daring (Online).

Kegiatan massif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif-nya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.

Pada webinar yang menyasar target segmentasi pelajar sukses dihadiri 635 peserta dari 1043 pendaftar. Hadir sebagai Narasumber pada webinar ini Ibu Dr. (c) Rr. Vemmi Kusuma Dewi, M.Pd. yang merupakan akademisi bidang pendidikan dan praktisi pendidikan ramah anak. Kemudian, Inna Dinovita, S.TP. yang merupakan CEO Sesha Cantika Indonesia. Aprilia Lestari, M.I.P. Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Baturaja. Selain itu, pemateri keempat, Hj. Jumiati, S.Pd., MM. Kepala SMA Negeri 4 OKU. Narasumber lainnya adalah Key Opinin Leader, Tomrist yang merupakan seorang moderator debat Capres-Caapres 2019.

Dr. (c) Rr. Vemmi Kusuma Dewi, M.Pd. menjelaskan pada massa pandemi covid-19 lalu sebelum Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di gelar, pembelajaran daring banyak dilakukan agar siswa tetap bisa belajar. Namun hal ini diperlukan digital skills, dimana sudah saatnya guru dan murid melakukan peningkatan kecakapan dalam media sosial.
” Cakap dalam arti memahami cara untuk menerapkan internet yang sehat. Mampu membuat media sosial sebagai sarana pendukung belajar dab mengajar. Selain media sosial sebagai pembelajaran maka lebih banyak lagi aplikasi pembelajaran yang dapat digunakan,” Jelasnya.

Ditambahkan Astri Dwi Andriani menggunakan media internet perlu diperhatikan digital Safety, di masa pandemi sekarang ini kita harus mampu beradaptasi sehingga penggunaan internet dalam pekerjaan juga harus dilakukan. Akan tetapi harus mengetahui bahwa tidak selamanya ruang digital aman dan baik-baik saja.
“Karena kejahatan digital marak terjadi, maka kita harus paham cara berinternet yang aman. Kemudian mencari sumber pustaka yang aman. Selain itu juga tidak sembarang dalam memberikan data pribadi di Internet,” Kata Astri.

Dosen Ilmu Pemerintah FISIP Unbara, Aprilia Lestari menyampaikan jika digital, menjadi budaya dalam sebuah era yang baru, harus dapat disadari bahwa hal tersebut dapat membuat sebuah benturan budaya atau clash of civilization. Digitalisasi dapat membangun sebuah kemajuan baru, namun juga secara bersamaan dapat mendistruksi kebiasaan tradisional yang sudah ada sebelumnya.
“Budaya digital merupakan prasyarat dalam melakukan transformasi digital karena penerapan budaya digital lebih kepada mengubah pola pikir (mindset) agar dapat beradaptasi dengan perkembangan digital. Adapun nilai-nilai dalam adaptasi tersebut antara lain menyampaikan informasi dengan benar, menghindari prasangka yang tidak berdasar, meneliti fakta untuk ketepatan data, menghindadari adu domba dan provokasi, menghindari tidakan penghinaan dan mengedapankan etika,” Kata April.

Dalam kehidupan di dunia digital, Sama halnya dengan kehidupan sehari hari dimana etika juga harus tetap di kedepankan, menurut Hj. Jumiati Etika merupakan norma atau nilai yang harus dijunjung tinggi, begitu juga dalam rana digital terkhusus lagi dalam pembelajaran daring.
Siswa harus mengedepankan etika dalam komunikasi digital seperti dalam chat atau sms, telpon bahkan dalam video conference. Untuk menerapkan etika digital dalam pembelajaran juga harus mengetahui terlebih dahulu ruanglingkupnya.
“Pertama adalah kesadaran, kejujuran (integritas), kebajikan dan tanggung jawab. Dengan mengedepankan ruang lingkup tersebut maka dapat dihasilkan pembelaran daring yang beretika. Salah satunya dengan pakaian yang rapi dan sopan, posisi duduk yang nyaman dan sopan, kamera diaktifkan, mikrofon dinyalaka, tidak sambil makan, dan menggunakan bahasa yang santun,” tutupnya.

Tomrist Sebagai key opinion leader dalam webinar kali ini, menuturkan bahwa sebagai penggiat sosial dan pernah juga menjadi moderator debat capres dan cawapres tahun 2019 menambahkan, sebagai penggiat media sosial juga, ia membagi pengalamannya bahwa sebagai manusia kita harus banyak belajar terutama membaca, karena dengan membaca maka akan banyak pengetahuan yang kita dapatkan.

Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar ini, Salah satunya yakni dari Muhamamad Redo yang menanyakan apa yang terjadi kalau kita tidak menyesuaikan diri di era digital?, Dimana menurut Aprilia Lestari, M.I.P mengikuti perkemabangan zaman yakni era digital merupakan suatu keharusan, suka atau tidak kita harus menyesuaikan diri, karena kalau tidak kita akan tertinggal bahkan tergilas.
“Seharusnya kita harus cepat menyesuaikan diri di era digital ini, karena kalau lambat juga akan tertinggal. Di era digital sekarang ditandai dengan kecepatan perubahan, oleh karena itu kita juga harus menyesuaikan diri denga cepat,” pungkasnya.

Seperti yang diketahui Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa. Total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah terkait literasi digital. “Hasil survei literasi digital yang kita lakukan bersama siberkreasi dan katadata pada 2020 menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia masih pada angka 3,47 dari skala 1 hingga 4. Hal itu menunjukkan indeks literasi digital kita masih di bawah tingkatan baik,” katanya lewat diskusi virtual. Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI ini menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.

Webinar ini merupakan satu dari rangkaian 23 kali webinar yang diselenggarakan di kabupaten Ogan Komering Ulu. Masyarakat diharapkan dapat hadir pada webinar-webinar yang akan datang. (*)